Pengertian Seni Teater Teater berasal dari kata Yunani adalah theatron sedangkan dalam bahasa Inggris adalah Seeing Place yang artinya tempat gedung Seni Teater Menurut Para Ahli1. Pengertian Seni Teater Menurut MoultonMenurut Moulton, drama adalah suatu kisah hidup yang dilukiskan dalam bentuk suatu gerakan life presented in action.2. Pengertian Seni Teater Menurut Balthazar VallhagenMenurut Balthazar Vallhagen, drama adalah suatu kesenian yang melukiskan sifat dan watak manusia dengan suatu Pengertian Seni Teater Menurut Ferdinand BrunetierreMenurut Ferdinand Bruneterre, drama adalah seni yang harus melahirkan sebuah kehendak dengan suatu action atau Pengertian Seni Teater Menurut Anne CivardiMenurut Anne Civardi, drama adalah suatu kisah yang diceritakan lewat sebuah kata-kata dan Pengertian Seni Teater Menurut Seni Handayani dan WildanMenurut Seni Handayani dan Wildan teater adalah suatu bentuk karangan yang berpijak pada dua jenis kesenian, yaitu seni sastra dan seni Dan Peran Seni TeaterAdapun beberapa fungsi dan peran seni teater adalahSebagai sarana untuk meningkatkan apresiasi seniSebagai sarana untuk mendapatkan suasana hiburanSebagau sarana untuk memfasilitasi seni pertunjukkan yang merupakan hasil budaya masyarakatSebagai sarana pertemuan antara buah pikiran seniman dengan masyarakat sehingga terjadi komunikasi dan Unsur Seni TeaterUnsur unsur seni teater dianataranya adalah1. Unsur Teater Naskah Lakon CeritaLakon atau naskah adalah materi atau bahan baku yang dijadikan bahan pementasan untuk sebuah garapan Lakon adalah karya sastra dengan media Bahasa kata. Mementaskan drama berdasarkan naskah drama berarti memindahkan karya seni dari media bahasa kata ke media Bahasa karya sastra kemudian berubah esensinya menjadi karya teater. Pada saat transformasi Bahasa kata menjadi Bahasa pentas, karya sastra bersinggungan dengan komponen- komponen teater, yaitu sutradara, pemain, dan tata Naskah Lakon TeaterAristoteles yang membagi naskah menjadi lima bagian besar, yaitu eksposisi pemaparan, komplikasi, klimaks, anti klimaks atau resolusi, dan konklusi catastrope.Kelima bagian tersebut pada perkembangan kemudian tidak diterapkan secara kaku, tetapi lebih bersifat Unsur Teater SutradaraSutradara merupakan pimpinan utama kerja kolektif sebuah teater yang menentukan baik buruknya sebuah pementasan bertanggung jawab terhadap kelangsungan proses terciptanya pementasan juga harus bertanggung jawab terhadap masyarakat atau Sutradara TeaterFungsi sutradara dalam karya cipta teater adalah penggagas pertama dalam mewujudkan karya pertunjukan, penafsir pertama terhadap naskah yang akan digarap, serta koordinator dalam melaksanakan kerja pokok sutradara adalah mengatur laku para pemain teater untuk dapat mewujudkan gagasan gagasan sutradara agar dapat dikomunikasikan langsung kepada Unsur Teater PemainPemain adalah unsur teater yang memeragakan tokoh di atas panggung. Pemain teater mempunyai wewenang membuat refleksi dari naskah melalui Pemain TeaterPemain teater memiliki tugas mentransformasikan naskah agar dapat menghidupkan tokoh yang ada pada naskah lakon menjadi sosok yang nyata. Oemain teater harus mampu menghidupkan bahasa kata atau tulis menjadi bahasa pentas atau Unsur Teater Tata Artistik – Pentas Panggung Pentas atau panggung merupakan tempat pelaksanaan pertunjukan teater. Panggung atau pentas ditata oleh seorang seniman penata pentas. Karya seni yang mewujudkan penataan pentas disebut tata pada prinsipnya merupaka karya seni yang ikut menjelaskan gagasan- gagasan yang terdapat dalam ceritera dalam bentuk visual dapat dilihat.Unsur artistik meliputi tata panggung, tata busana, tata cahaya, tata rias, tata suara, tata musik yang dapat membantu pementasan menjadi sempurna sebagai Panggung TeaterTata panggung adalah pengaturan pemandangan di panggung selama pementasan Tata Panggung TeaterTujuan tata panggung adalah agar permainan dapat dilihat penonton dan dapat menghidupkan pemeranan dan suasana Cahaya – Lampu TeaterTata cahaya atau lampu adalah pengaturan pencahayaan di daerah sekitar panggung yang fungsinya untuk menghidupkan permainan dan dan suasana lakon yang dibawakan, sehingga menimbulkan suasana Tata Cahaya – Lampu Seni TeaterPenerangan Menyinari semua objek di atas panggungDimensi membagi sisi gelap dan terang atas objek yang disinari sehingga membantu perspektif tata Tata cahaya lampu dapat dimanfaatkan untuk menentukan objek dan area yang hendak Menghadirkan suasana yang mempengaruhi emosi Musik TeaterTata musik adalah pengaturan musik yang mengiringi pementasan teater yang berguna untuk memberi penekanan pada suasana permainan dan mengiringi pergantian babak dan Tata Musik TeaterSebagai tanda pengenal suatu acara atau musik identitas cara soundtrack.Menciptakan efek khayalan atau imajinasi dengan menghadirkan suara-suara aneh di luar peralihan antara dua adegan, sebagai fungsi perangkai atau pemisah adegan,Sebagai tanda mulai dan menutup suatu adegan atau Suara TeaterTata suara adalah pengaturan keluaran suara yang dihasilkan dari berbagai macam sumber bunyi seperti; suara aktor, efek suasana, dan musik. Tata suara diperlukan untuk menghasilkan Tata Suara TeaterMenyampaikan pesan tentang keadaan yang sebenarnya kepada pendengar atau tempat dan suasana terentu, keadaan tenang, tegang, gembira maupun sedihMenentukan atau memberikan informasi waktu. Bunyi lonceng jam dinding, ayam berkokok, suara burung hantu, dan lain menjelaskan datang dan perginya seorang pemain. Ketukan pintu, suara motor menjauh, dan suara langkah kaki, gebrakan meja, dan lain Busana Teater Tata busana adalah seni pakaian dan segala perleng-kapan yang menyertai untuk menggambarkan Tata Busana Teater Mencitrakan keindahan penampilanMembedakan satu pemain dengan pemain yang lainMenggambarkan karakter tokohMemberikan efek gerak pemainMemberikan efek dramaticTata Rias TeaterTata rias dan tata busana adalah pengaturan rias dan busana yang dikenakan pemain. Gunanya untuk menonjolkan watak peran yang dimainkan, dan bentuk fisik pemain bisa terlihat jelas Tata Rias Seni Teater Menyempurnakan penampilan wajahMenggambarkan karakter tokohMemberi efek gerak pada ekspresi pemainMenegaskan dan menghasilkan garis-garis wajah sesuai dengan tokohMenambah aspek Rias Usia Seni TeaterRias Usia merupakan riasan yang digunakan untuk merubah usia atau penampilan seseorang penari menjadi orang tua atau menjadi anak Rias Tokoh Seni TeaterRias Tokoh merupakan riasan yang memberikan penjelasan pada tokoh yang diperankan. Misalnya memerankan tokoh Sinta Ramayana, atau Rias Watak Seni TeaterRias Watak merupakan riasan yang digunakan sebagai penjelas watak yang diperankan peran antagonis contohnya tokoh bawang merah atau peran protagonis contohnya tokoh bawang Unsur Teater Properti – Perlengkapan PentasProperti adalah perlengkapan yang digunakan di atas panggung untuk membantu menjelaskan maksud yang terkandung dalam teater dapat berupa benda-benda yang dihadirkan di atas panggung, atau juga benda-benda yang dipegang oleh para aktris dan aktor untuk mendukung yang diletakan di atas pentas untuk kebutuhan pementasan disebut stageprop atau perlengkapan yang dipegang atau dibawa oleh actor dan aktris selama pementasan teater disebut Unsur Teater PenontonPenonton merupakan orang yang menyaksikan atau menonton karena ingin memperoleh kepuasan, kebutuhan, dan harapan terhadap karya seni Karya Seni TeaterPada dasarnya pagelaran teater merupakan kegiatan seni yang mengungkap seperangkat symbol yang dikomunikasikan kepada simbol yang digunakan sebagai sarana komunikasi dalam teater meliputi symbol visual, symbol verbal, symbol audutif, symbol1. Simbol Visual Seni TeaterSimbol visual adalah simbol yang nampak dalam penglihatan penonton. Simbol visual berwujud benda- benda, bentuk- bentuk, warna- warna dan barang-barang perkakas pendukung pementasan serta perilaku tubuh para Simbol Verbal Seni TeaterSimbol verbal merupakan symbol yang berupa kata- kata yang diucapkan dalam dialog dan monolog para pemain, narator, maupun dalang. Kata- kata yang diungkap merupakan teks naskah yang diciptakan oleh Simbol Auditif Seni TeaterSimbol auditif adalah simbol yang ditimbulkan oleh bunyi bunyian yang dapat didengar oleh penonton. Bunyi- bunyi tercipta oleh para pemain untuk menghasilkan kesan tertentu, atau bunyi yang dihasilkan dan dibuat sengaja sebagai tataan musik ilustrasi. Pada dasarnya musik adalah Simbol TeaterSimbol-simbol yang digunakan dalam pertunjukan teater berfungsi untuk memperkuat komunikasi ide-ide yang akan disampaikan kepada Estetis Seni TeaterNilai estetis atau nilai keindahan dalam pergelaran teater merupakan akumulasi dari nilai-nilai yang digagas dan dikomunikasikan kepada nilai nilai seni teater adalah1. Nilai Emosional Seni Teater, Nilai emosional merupakan nilai yang didasarkan pada seberapa banyak penonton teater yang hanyut dalam suasana yang dibangun oleh struktur pagelaran dapat sedih, gembira, tragis, menyayat hati, tegang, mencekam, dan Nilai Intelektual Seni Teater, Nilai intelektual merupakan nilai yang didasarkan seberapa besar penonton mendapatkan manfaat dari pertunjukkan. Nilai intelektual yang baik membuat Penonton akan mengalami pencerahan setelah menonton pertunjukan tersebut banyak memberikan nilai-nilai informasi tentang kehidupan sosial, spiritual, moral, dan Nilai Visual Seni Teater, Nilai visual merupakan nilai yang menyebabkan oleh penonton teater kerap merasa takjub melihat peristiwa pentas dengan segala perkakasnya yang speaktakuler hasil tangan-tangan kreatif para pekerja Nilai Verbal Seni Teater, Nilai verbal merupakan nilai yang mendorong banyak penon ton yang kagum pada ungkapan kata -kata dari para pemain dengan teknik dinamika yang luar biasa, artikulasi yang jelas, serta irama yang Jenis Teater1. Teater BonekaBoneka dipakai untuk menceritakan legenda atau kisah kisah religius. Berbagai jenis boneka dimainkan dengan cara yang tangan dipakai di tangan sementara boneka tongkat digerakkan dengan tongkat yang dipegang dari atau boneka tali, digerakkan dengan cara menggerakkan kayu silang tempat tali boneka Drama MusikalDrama musical merupakan pertunjukan teater yang menggabungkan seni menyanyi, menari, dan akting. Drama musikal mengedepankan unsur musik, nyanyi, dan gerak daripada dialog para drama musikal karena memang latar belakangnya adalah karya musik yang bercerita. Karya musik bercerita kemudian dikombinasi dengan gerak tari, alunan lagu, dan tata Teater GerakTeater gerak merupakan pertunjukan teater yang unsur utamanya adalah gerak dan ekspresi wajah serta tubuh dialog sangat dibatasi atau bahkan dihilangkan seperti dalam pertunjukan pantomim Teater DramatikDramatik digunakan untuk menyebut pertunjukan teater yang berdasar pada dramatika lakon yang teater dramatik, perubahan karakter secara psikologis sangat diperhatikan dan situasi cerita serta latar belakang kejadian dibuat sedetil yang disajikan di atas pentas adalah karakter manusia yang sudah jadi, artianya tidak ada proses perkembangan karakter tokoh secara. Teater dramatik mencoba menyajikan cerita seperti halnya kejadian Teatrikalisasi PuisiTeatrikalisasi Puisi merupaka Pertunjukan teater yang dibuat berdasarkan karya sastra puisi yang biasanya hanya dibacakan dicoba untuk diperankan di atas puisi lebih mengedepankan estetika puitik di atas pentas. Gaya acting para pemain biasanya teatrikal. Tata panggung dan blocking dirancang sedemikian rupa untuk menegaskan makna puisi yang puisi menerjemahkan makna puisi ke dalam tampilan laku aksi dan tata artistik di atas Jenis Panggung TeaterBeberapa jenis panggung yang sering dipakai untuk pentas teater diantaranya adalah panggung Arena, Proscenium,Jenis Panggung Teater – Arena Panggung arena adalah panggung yang penontonnya melingkar atau duduk mengelilingi panggung. Penonton sangat dekat sekali dengan bentuknya yang dikelilingi oleh penonton, maka penata panggung dituntut kreativitasnya untuk mewujudkan set jarak antara pemain dan penonton dimanfaatkan untuk melakukan komunikasi langsung di tengah-tengah pementasan yang menjadi ciri khas teater tersebut. Aspek kedekatan inilah yang dieksplorasi untuk menimbulkan daya tarik Panggung Teater – Proscenium Panggung proscenium bisa juga disebut sebagai panggung bingkai karena penonton menyaksikan aksi aktor dalam lakon melalui sebuah bingkai atau lengkung proscenium proscenium arch.Bingkai dipasangi layar atau gorden sebagai pemisah wilayah akting pemain dengan penonton, Aktor dapat bermain dengan leluasa seolah- olah tidak ada penonton yang hadir ini dapat membantu efek artistik yang dinginkan terutama dalam gaya realisme yang menghendaki lakon seolah- olah benar -benar terjadi dalam kehidupan Panggung Teater Thrust Panggung thrust seperti panggung pro-cenium tetapi dua pertiga bagian depannya menjorok ke arah penonton. Pada bagian depan yang menjorok ini penonton dapat duduk di sisi kanan dan kiri depan diperlakukan seolah panggung arena sehingga tidak ada bangunan tertutup vertikal yang dipasang. Sedangkan panggung belakang diperlakukan seolah panggung proscenium yang dapat menampilan kedalaman objek atau pemandangan secara Seni TeaterKrtik Seni teater terdiri dari dua model kritik, yakni kritik subjektif dan kritik objektif1. Kritik Subjektif Seni TeaterKritik subjektif adalah kritik dari seorang kritikus dengan membuat ulasan berdasarkan pada selera dia membuat pernyataan bahwa pergelaran teater itu jelek, alasannya bahwa dia tidak suka. Sesuatu yang bagus menurut dia adalah sesuatu yang dia sukai, bahkan membandingkan dengan ketika dia mengatakan bahwa pergelaran teater itu bagus, karena memang dia suka garapan seperti itu atau mungkin ada hubungan personal dengan penggarap, karena penggarap itu temannya, saudaranya, atau yang subjektif selalu tidak dapat dipertanggung jawabkan. Oleh karena ketika dia mengatakan jelek, dia tidak mampu menunjukan di mana letak juga sebaliknya ketika mengatakan bagus terlanjur memiliki perasaan kagum sehingga tak mampu berkata-kata. Kritikus yang subjektif kadang-kadang punya kecenderungan berpihak pada seseorang, bukan pada karya yang heran jika kritikus semacam itu akan menutup diri di luar yang dia sukai. Dalam kehidupan zaman sekarang, kritikus semacam itu diperlukan untuk mempopulerkan atau menjatuhkan seseorang dengan cara menggencarkan publikasi di mass media untuk mempengaruhi opini masyarakat tentunya dengan Kritik Objektif Seni TeaterKritik objektif adalah kritik yang selalu mengulas karya seni tidak peduli itu karya siapa. Kritik objektif dapat disebut kritik konstruktif bertanggung jawab. Oleh karena kritikannya dinyatakan menyatakan jelek, kritikus akan menunjukan di mana juga ketika dia menyatakan bagus, harus mampu menjelaskan kenapa bagus. Kritikus semacam ini sangat dirindukan oleh kalangan seniman terutama seniman muda yang baru mulai kritik yang objektif dapat dijadikan ajang pembelajaran guna kemajuan seniman muda selanjutnya. Dengan demikian kritik objektif dapat juga dikatakan kritik membangun. Artinya dia sangat bertanggung jawab atas kehidupan kekaryaan seni terutama teater di masa datang. Kritikus ini biasanya tidak dapat diintervensi oleh siapapun apalagi disogok, karena dia tidak bertanggung jawab pada siapun kecuali pada marmer terbentuk dari batu … yang mengalami perubahan suhu dan tekanan tinggiSeni Musik Pengertian, Fungsi Simbol, Nilai Estetika, Unsur Dasar, Jenis Bentuk Ekpresi, Aliran Genre Alat MusikPrinsip Dasar Pemisahan Campuran Dekantasi Filtrasi Distilasi Sublimasi Kristalisasi Corong Pisah Kromatografi Centrifugal Amalgamasi10 Contoh Soal Ujian IPA dan Jawaban Terbaru,Lintasan edar asteroid berada di antara planetLapisan matahari yang berfungsi sebagai selimut untuk meminimalisir energi yang hilang dari matahari adalah ….,Interaksi Kota Teori Konsentrik Teori Sektoral Teori Inti Ganda Teori Poros Teori HistorisPeta Pengertian – Jenis – Fungsi Skala Proyeksi Komponen Simbol Warna Lettering Orientasi LegendaApresiasi Karya Seni Pengertian, Tujuan, Fungsi, Manfaat, Pendekatan Kritik, Analitik Kognitif, Aplikatif, Kesejarahan Problematik, SemiotikSistem Demokrasi Pengertian Asas Prinsip Jenis Bentuk Nilai Dasar Ciri Sikap Perilaku Positif Demokrasi123456...9>>Daftar PustakaSetiawati, Puspita, 2004, “Kupas Tuntas Teknik Proses Membatik”, Absolut, Teguh, 1984, “Pengantar Pendidikan Seni Rupa”, Penerbit Yayasan Kanisius, Budiman, 1988, “Penuntun Pelajaran Seni Rupa”, Ganeca Exact, J., 2010, “Filsafat Seni”, Penerbit PT. Gramedia, JakartaSumardjo, J., 2000, “Filsafat Seni”, Penerbit ITB, sp., 1990, “Tinjauan seni. Sebuah pengantar untuk apresiasi seni”, Suku Dayar Sana, Supardi, 1990, “Sejarah Seni Rupa Eropa”, IKIP Semarang Press, 1986, “Seni, Desain dan Teknologi”, Pustaka, Humar, 1993, “Mengenal Dunia seni Rupa”, IKIP Semarang, Ringkasan Naskah drama dibuat oleh pengarang sastrawan sebagai karya atau teks lakon drama memuat pesan-pesan pengarang tentang pengalamannya untuk mendapat tanggapan dari pembacanya atau penggarapnya. Pesan-pesan itu berupa nilai-nilai yang terhimpun dalam tema lakon merupakan seperangkat ide-ide yang dikomunikasikan kepada pemilihan pemain akan sangat berpengaruh pada nilai publikasi. Selain konsep pemilihan pemain, pemilihan lakon yang akan digelar juga berpengaruh pada perhatian calon penyutradaraan menentukan juga bahwa pergelaran yang akan dilaksanakan mendapat perhatian masyarakat penonton atau tempat harus bersesuaian dengan konsep-konsep lainnya dan membuat masyarakat penonton mendapat kemudahan akses untuk properti secara lengkap dan mewah, atau secara sederhana namun efektif akan membuat takjub penonton yang menyaksikannyaNilai estetis atau nilai keindahan dalam pergelaran teater merupakan akumulasi dari nilai-nilai yang digagas dan dikomunikasikan kepada subjektif adalah cara orang kritikus membuat ulasan berdasarkan selera pribadinya. Kritik objektif adalah kritik yang mengulas karya seni tidak peduli itu karya objektif dapat disebut kritik konstruktif bertanggung jawab. Oleh karena kritikannya dinyatakan jelek, dia akan menunjukan di mana letaknya. Begitu juga ketika dia menyatakan bagus, akan mampu menjelaskan kenapa semacam ini sangat dirindukan oleh kalangan seniman terutama seniman muda yang baru mulai kritik yang objektif dapat dijadikan ajang pembelajaran guna kemajuan seniman muda selanjutnya. Dengan demikian kritik objektif dapat juga dikatakan kritik membangun. Artinya dia sangat bertanggung jawab atas kehidupan kekaryaan seni terutama teater di masa ini biasanya tidak dapat diintervensi oleh siapapun apalagi disogok, karena dia tidak bertanggung jawab pada siapun kecuali pada profesinya.
KehidupanTeater Modern Indonesia baru menampakkan wujudnya setelah Usmar Ismail menulis naskah lakon yang berjudul Citra tahun 1943. Naskah lakon yang ditulis oleh Usmar Ismail bukan bertema tentang pahlawan-pahlawan epik atau tentang para bangsawan, melainkan tentang kehidupan sehari-hari atau tentang manusia Indonesia yang sedang menggalang Penyusunan Dalam Naskah Lakon Teater Modern Indonesia Pertama yang harus kita lakukan adalah Penyusunan Dalam Naskah Lakon Teater Modern memilih dan menentukan tema, yaitu pokok pikiran atau dasar cerita yang akan ditulis. Saat memilih dan menentukan tema, harus mengingat kejadian/ peristiwa yang dalam pertunjukan dinyatakan sebagai laku atau action dan motif, yaitu alasan bagi timbulnya suatu laku atau kejadian/peristiwa. Kejadian/peristiwa dari laku harus diterangkan melalui rangkaian dan totalitas sebab-akibat. Timbulnya motif sebagai dasar laku merupakan keseluruhan dari rangsang dinamis yang menjadi lantaran seseorang mengadakan tanggapan. Dasar timbulnya motif, adalah kecenderungankecenderungan dasar yang dimiliki manusia, kecenderungan untuk dikenal, untuk mengejar kedudukan, dan lain-lain, yang disebabkan oleh keadaan fisik dan status sosialnya. Juga disebabkan oleh sifat-sifat intelektual dan emosionalnya. Setelah memilih dan menentukan jalan cerita yang akan ditulis, langkah selanjutnya adalah merumuskan intisari cerita yang disebut premise. Apabila premise digunakan sebagai dasar ide/ gagasan, kita akan mendapat pola cerita, ke arah mana tujuan cerita yang kita tuangkan dalam bentuk naskah lakon. Apabila kita menyeleweng dari arah yang telah ditentukan, maka kita tidak akan sampai pada tujuan dalam Penyusunan Dalam Naskah Lakon Teater Modern. Sebagaimana yang tersurat dan tersirat di dalam premise. Premise yang kita tentukan akan teruji dan terbukti kebenarannya jika kita sampai pada titik tujuan, titik akhir lakon. Oleh karena itu, kita harus benar-benar yakin akan premise yang telah ditentukan. Jangan menulis sebuah lakon yang premisenya masih kita sangsikan sendiri! Misalnya kita menentukan premise, siapa yang menggali lubang akan terperosok sendiri ke dalamnya. Bagaimana dengan kebenaran premise itu? Yakinkah kita? Nah, kalau kita yakin, kita harus berpegang pada premise itu, sehingga kita akan terhindar dari bahaya kerja yang meraba-raba. Kalau premise yang kita tulis ternyata sama dengan premise naskah lakon tertentu, kita jangan kecil hati karena hasil tulisannya akan berbeda. Pengolahannya pasti akan berbeda dengan naskah lakon yang sudah ada di Penyusunan Dalam Naskah Lakon Teater Modern. Misalnya, naskah lakon “Jayaprana dan Layonsari” dari Bali, premisenya sama dengan naskah lakon tragedi “Romeo & Juliet karya Williams Shakespeare, tetapi kedua naskah lakon tersebut berbeda. Sebagai akhir uraian tentang premise, baiklah kita kemukakan kenyataan bahwa tidak ada lakon yang baik tanpa premise. Oleh karena itu, kita sebutkan beberapa contoh • “MACBETH” karya Williams Shakerpeare Premise “Nafsu angkara murka membinasakan diri sendiri”. • “TARTUFFE” karya Moliere Premise “Siapa menggali lubang untuk orang lain, akan terjerumus sendiri ke dalamnya”. • “RUMAH BONEKA” karya Hendrik Ibsen Premise “Tiada keserasian dalam pernikahan akan mendorong perceraian”. • “DEAD END” karya Sidney Kingsley Premise “Kemiskinan mendorong kejahatan”. • “API” karya Usmar Ismail. Premise “Ambisi angkara membinasakan diri sendiri” Baca Juga Naskah Lakon Dari Sebuah Teater Modern Indonesia Improvisasi Dan Karakter Dalam Pemeranan Dari Sebuah Teater Modern Latihan Teknik Pemeranan Dalam Seni Teater Modern Demikian Artikel Penyusunan Dalam Naskah Lakon Teater Modern Indonesia Yang Saya Buat Semoga Bermanfaat Ya Mbloo Artikel Terkait Kegiatan Evaluasi Dalam Pameran Seni Rupa Unsur Pendukung Dan Pergelaran Seni Tari Merencanakan Pameran Dari Karya Seni Rupa Jenis Suara Manusia Dari Sebuah Pertunjukan Musik Barat Fungsi Dari Sebuah Iringan Tari ModernPementasanteater berasal dari naskah lakon. Ada unsur dan teknik penyusunan naskah lakon, Adjarian. Naskah lakon atau skrenario merupakan unsur penting dalam sebuah seni teater atau drama. Adanya naskah membuat sutradara dan pemain bisa mengetahui jalan cerita, tema, alur, latar, dan penokohan mengenai pementasan yang akanSejauh ini, TeaterKomaPentasDiSanggar telah menayangkan empat naskah yang dipentaskan melalui kanal Youtube pribadi Teater Koma, yaitu Cinta Itu, Sekadar Imajinasi, Pandemi, dan Wabah. Lakon Wabah yang tayang pada 18 November 2020 merupakan hasil karya naskah yang ditulis oleh Budi Ros dan disutradarai oleh Rangga Riantiarno. Lakon ini menampilkan Semar Budi Ros yang kebingungan dengan ulah ketiga anaknya, Gareng Zulfi Ramdoni, Petruk Raheli Darmawan, dan Bagong Dick Perthino, yang mencari keuntungan di tengah berlangsungnya Pandemi tidak menghentikan teater yang telah berdiri sejak 1977 itu untuk terus berkarya. Teater Koma berhasil menciptakan inovasi baru dengan mengusung perspektif yang menarik, yaitu TeaterKomaPentasDiSanggar. Salah satunya lewat lakon Wabah, Teater Koma membuat panggung pementasannya sendiri dengan menggunakan konsep artistik layaknya di gedung pertunjukan serta mematuhi protokol kesehatan.“Naskah-naskah baru berdurasi pendek, digelar di sanggar Teater Koma yang kami ubah menjadi sebuah studio, lengkap dengan lampu-lampu panggung, para pemain memakai clip-on, memakai lebih dari satu kamera. Lalu karena pentas direkam dalam masa pandemi, kami tetap menjalankan protokol kesehatan, di mana para pemain dan pekerja mengenakan faceshield, dan atau masker,” tutur Nano. 6/11Konsep Artistik Lakon Wabah TeaterKomaPentasDiSanggarPerspektif baru lewat media digital dan inovasi pentas di sanggar juga membentuk konsep artistik yang baru. Konsep artistik yang akan dibahas terkait lakon Wabah diantaranya panggung atau pentas, set-dekor-properti, kostum, tata rias, pencahayaan, dan ilustrasi atau panggung merupakan tempat yang digunakan untuk memainkan sandiwara, pidato, dan sebagainya, pada konteks ini, dimaksudkan untuk memainkan teater. Menurut Nano Riantiarno, ada dua jenis panggung yang dikenal selama ini, yaitu panggung prosenium dan panggung arena. Panggung prosenium adalah panggung yang hanya dapat dilihat dari satu arah oleh penonton. Sementara panggung arena merupakan panggung yang dapat dikelilingi dan setiap sudutnya dapat dilihat oleh penonton. Riantiarno, 2011 148Meski hanya melalui tayang daring, dapat dilihat bahwa panggung yang digunakan dalam lakon Wabah ialah panggung prosenium, karena penonton hanya bisa melihat dari arah depan saja. Sisi kiri, kanan, dan belakang dapat dijadikan jalan keluar masuknya merupakan pendukung untuk menciptakan tempat, waktu, dan keadaan/suasana di panggung pementasan. Set/dekor meliputi bagian benda/gambar dipanggung yang bersifat permanen. Set property merupakan properti penunjang dari set properti, dan memungkinkan dapat dipindah-pindah. Sementara, hand property yaitu properti yang dapat dibawa-bawa oleh pemain. Sedangkan, properti adalah pelengkap dari set properti. Riantiarno, 2011 147-151Pohon merupakan set-dekor yang ada dalam pementasan lakon Wabah, karena hadirnya pohon dalam pementasan menciptakan konsep latar halaman rumah. Untuk mendukung latar dan menciptakan suasana halaman rumah, lakon Wabah menggunakan bale-bale yaitu kursi yang terbuat dari bambu. Set properti lakon Wabah juga menampilkan sepeda romo Semar yang dielap-elap oleh Petruk. Tak hanya memberi sentuhan terhadap suanan latar, kehadiran sepeda sebagai set property juga mengusung gagasan yang ingin dibawa oleh penulis naskah lewat lakon Wabah. Tak hanya itu, gagasan penulis dalam lakon juga disampaikan melalui set property tempat peralatan sabun cuci tangan yang ingin dijual oleh Gareng. Sementara, untuk properti yang ada dalam tempat peralatn tersebut yaitu botol sabun, dan sabun cuci tangan. Menariknya, setiap set property yang ditampilkan memiliki sangat berhubungan dan saling berkaitan atas gagasan lakon Wabah adalah segala sesuatu yang dikenakan termasuk asesori oleh pemain untuk kepentingan pementasan. Jika dipandang sebagai pakaian atau busana, kostum meliputi perlengkapan yang dikenakan dari ujung kepala hingga ujung kaki. Kostum dalam pementasan memiliki peran dan fungsi, diantaranya untuk mendukung perkembangan watak pemain, membangkitkan daya saran dan suasana, juga untuk memberikan perbedaan antara satu pemain dengan yang lainnya. Hasanuddin, 2015153-154Teater Koma mengusug gagasan menarik lewat kostum yang dipakai oleh seluruh karakter. Sebagaimana tercermin dari nama tokoh setiap pemain, Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong mengenakan kostum wayang Punakawan. Kostum tersebut meliputi Ira-iraan, rompi, celana satin, gaman dan kalung yang dilengkapi inisial setiap tokoh, sembong, sabuk, epek, dan timang sampur. Berhubung pementasan dilaksanakan pada masa pandemi, para pemain juga memakai face shield sebagai upaya untuk disiplin mematuhi protokol kesehataan. lakon wabah ini menampilkan pemain dengan tokoh-tokon punakawan. Oleh karena itu, wajah para pemain dirias layaknya wayang punakawan. Mulai dari pola dan riasan bibir yang dibuat lebih besar dari bibir asli pemain, riasan rambut yang dikuncir mirip punakawan, hingga raut-raut wajah yang dibuat sangat mirip dengan wayang panakawan. Tokoh Semar sebagai bapak dari ketiga anaknya, dibuat lebih tua raut wajahnya. Semar menampilkan watak yang bijak dan selalu menganjurkan hal-hal baik dalam kehidupan. Pencahayaan dalam pertunjukan teater berfungsi untuk menerangi dan menyinari. adapun bagian-bagian yang diterangi atau disinari meliputi pentas, properti, ataupun pemain. Pencahayaan ini berfungsi untuk memberikan penerangan, memunculkan efek dramatik, estetik, dan artistik dalam pementasan. Tata letak lampu disesuaikan dengan kebutuhan pementasan, bisa diletakkan di langit-langit pentas, lantai, dinding, atau sisi lainnya. Pada pementasan lakon wabah, lampu dietakkan di langit-langit pentas untuk menerangi panggung, properti dan juga para pemain. Peralatan dan penataan lampu yang digunakan yaitu spotlight dan floodlight. Musik pengiring dalam kegunaan pementasan drama disebut denga illustrasi musik. Suasana cerita, warna dialog akan lebih menarik dengan diringi musik yang relevan. Pemanfaatan ilustrasi musik dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu musik langsung yang dimainkan langsung pada saat pementasan, dan musik rekaman yang berupa musik aransemen wabah dikemas secara menarik melalui iringan musik langsung. Peralatan musik yang digunakan yaitu perkusi yang dimainkan oleh Radhen Darwin, dan kendang yang dimainkan oleh Ohan Adiputra, dan Fero A. Stefanus sebagai penata musik.
Naskahlakon teater, khususnya teater tradisional ditangan sang koordinator dan biasanya merangkap pimpinan grup, atau orang yang dituakan dalam kelompok seninya. dan pesan moral bersifat aktual atau tidak. Pesan moral yang dimaksud harus mengangkat nilai-nilai kemanusiaan agar tercipta keseimbangan hidup, harmonis, dan bermakna. 2. Tema
Di dalam produksi teater berbasis bacaan, naskah drama atau kita tutur akrabnya dengan “naskah” saja, adalah pijakan utama dalam proses produksi. Banyak penonton teater juga mendasarkan keputusan menonton atau tak suatu pertunjukan bersendikan naskah yang diangkat. Cuma demikian, tak sukar kita mendapati satu pertunjukan nan mengerjakan sedikit modifikasi terhadap skenario yang dipanggungkan. Hak kreatif sutradara dianggap sepan kerjakan mengamalkan terbatas perubahan dialog, bahkan kawin babak demi tercapainya sebuah pementasan yang lebih kontekstual maupun makin baik dalam sudut pandang tertentu. Di Indonesia, hal begini sedekat pengamatan saya masih dianggap kejadian nan biasa. Ya, Kreativitas sutradara memang utama dan patut dijunjung. Namun demikian, praktik modifikasi naskah sandiwara boneka ini seringpula tidak dilakukan atas persetujuan notulis. Sepertinya, penulis skrip dianggap sudah selesai pekerjaanya sejak naskah diberikan ke sutradara ataupun khalayak, sehingga perwujudan naskah ke atas panggung bukan pula kepunyaan kreatif si penulis. Bahkan, melakukan aplikasi ijin atau setidaknya konfirmasi kepada pencatat naskahpun banyak nan bukan semacam ini sepertinya dianggap bukan masalah di Indonesia. Setau saya, saya belum aliansi mendengar notulis naskah senior sebagai halnya Putu Wijaya atau Tepi langit Riantiarno, mengeluh karena naskahnya dimainkan tanpa ijin. Bisa jadi ini pun demi membangkitkan hidup berkarya arena, sehingga hal-hal yang menghambat proses dikesampingkan dulu. Namun demikian, ada bilang pencatat yang rangkaian berusaha menegakkan haknya sebagai penyalin. Sebut namun WS Rendra yang menuntut penyetoran royalti tertentu apabila naskah karya ia dimainkan makanya keramaian atau seniman lain di luar kelompoknya. Saya koteng pernah menyedang melakukannya. Meski naskah karya saya baru sebatas hitungan deriji satu tangan, namun saya menyedang mengunggah tulisan tangan saya ke internet dengan mencantumkan email dan nomer HP disertai permohonan agar barangkali tetapi nan akan menggunakan tulisan tangan saya terlebih lewat menghubungi saya. Tentu banyak yang kemudian bersedia mengabari saya lebih dulu. Biasanya saya akan meminta sagu hati sebesar 10% dari jumlah karcis yang terjual. Tentu saja saya bersedia di”nego” dan hasilnya seringpula mereka menyatakan tidak bernas menggaji royalti karena kapitalisasi nan minim dan hasil penjualan tiket digunakan lakukan menutup biaya artistik dan produksi. Saya tidak keberatan jika memang demikian sedikit menggondokkan pertautan saya alami juga. Suatu kali seorang sutradara berasal seberang pulau menghubungi saya dan berniat memproduksi pertunjukan teater menggunakan naskah saya. Namun, berkaitan dengan pendanaan yang belum sejenis itu aman, ia menego untuk hanya membayar sagu hati dengan jumlah karuan sekian ratus ribu. Sayapun bersedia mengijinkan dan menyepakati nilai imbalan nan dijanjikan. Semata-mata, bulan-demi bulan berikutnya tidak ada kabar. Setakat suatu saat saya “browsing” dan menemukan berita online adapun telah suksesnya tontonan kelompok tersebut. Lalu saya mengontak sutradaranya bikin menagih janji. Namun, jawabannya ialah mereka lain akan membayar royalti kepada saya, karena dua hal. Satu, secara keuangan tim produksi mengalami kemalangan sekian desimal juta karena gagalnya sponsorship. Dua, ini yang terka bikin panas hati, beliau mengatakan “Tidak Jadi” mengaryakan naskah saya, tetapi membuat skrip bau kencur nan didasarkan pada naskah saya. Sedangkan dari bilang berita online yang saya baca, jelas-jelas sinopsisnya sama, hanya mereka menambah beberapa adegan opening dan melakukan modifikasi lakukan mengkontekstualkan dengan persoalan di daerah mereka. Dan lagi, segel-nama biang kerok yang mereka pentaskan tetap sama seperti mana nama-segel tokoh dalam skrip saya tersebut. Ketimbang meributkan ratusan ribu tersebut, saya putuskan cak bagi “ya telah kalao begitu.”Terimalah, praktik memodifikasi naskah sebagai halnya ini menjadi terasa “problematis” karena terkait urusan “doku” P. Provisional mungkin saya tidak mempersoalkan modifikasi tulisan tangan saya ini andai saja tak membentuk batalnya perjanjian ini, saya membaca sebuah artikel tentang praktik pengubahan naskah dan kaitannya dengan hoki cipta di Amerika Sertikat. Berikut saya sampaikan tafsiran versi saya. Semoga menjadi bahan teks kita di Jogja dan dari kata sandang Knowledge Base di website AACT American Association of Community Theatre. PENGUBAHAN NASKAH? Undang-undang Oktroi mewajibkan permohonan ijin. Berikut caranya sepatutnya berhasil. Tidaklah aneh untuk sutradara yang menjadikan naskah ibarat titik pijaknya–membolehkan bilang pengubahan yang teradat mudahmudahan supaya pementasan kian memadai bagi lokasi, aktor dan penontonnya. Mereka bisa doang ki memenungkan untuk menyelit dialog, mengganti jenis kelamin otak terdepan, atau nama tokohnya, mengatak ulang lokasi peristiwa atau kurun tahun, atau menghilangkan istilah alias bahasa tertentu. Dengan karya-karya Shakespeare tentu enggak ada masalah–karya-karyanya sudah terjadwal public domain milik awam. Namun sekiranya naskah atau terjemahan versi baru terbit naskah lama dilindungi oleh UU Hak Cipta, tidak satupun pengubahan itu dibolehkan sonder ijin tertulis berpangkal pencatat atau yang mewakilinya rata-rata penerbit atau bentuk agen lisensi. Bilang penulis skenario persisten menolak pengubahan lega karya mereka. Doang, banyak pula yang sedikitnya bersedia menimang-nimang kemungkinannya–jika Dia melakukannya dengan bermoral. Pengenalan-pembukaan yang hilang UU Hak cipta lahir berpokok konsep asal bahwa penulis memiliki peruntungan untuk meminta agar karya mereka dipresentasikan sebagaimana ia ditulis dan dimaksudkan. Tak mengacuhkan syariat dapat menempatkan sebuah kelompok teater kepada masalah. Pada 2003, sebuah dinner theatre teater berpentas di resto dan mengiringi acara bersantap-pena di Utah, memulai produksi dari naskah Neil Simon, Rumors. Hanya, saat banyak kata-kata cemar dihilangkan dari dialog, seorang pemeran yang bukan puas melaporkannya kepada Samuel French Inc., yang mutakadim memberikan lisensi pergelaran tersebut atas stempel Simon. Setelah mendapatkan teguran dari pengacara Simon, bahwa mereka harus mementaskan skenario seperti catatan aslinya, akhirnya kelompok ini memintal bikin membatalkan produksi daripada melanjutkan dan bentrok dengan barometer etika kesopanan. Penutupan produksi ini telah membuang biaya sebesar $ dan tak menyisakan modal untuk melanjutkan kegiatan mereka. Sebuah produksi Steel Magnolias di Memphis 1996 terancam detik seorang aktor pria dijatah memerankan penata rambut bernama Truvy. Dramatist Play Service, yang memegang lisensi atraksi atas segel Robert Harling sang panitera, menunangi produser kerjakan mengganti pemeran itu dengan aktor dara, maupun mereka akan kehilangan ijin pementasan. “Saya sungguh-sungguh mengimani dan mendukung hoki setiap orang untuk independensi ekspresi artistik,” kata Harling kepada New York Times. “Steel Magnolias, yakni ekspresi astistik saya, dan adalah hoki saya untuk berkeras hati bahwa tokoh perempuan itu harus dimainkan makanya amoi. Konsep berpangkal naskah ini berlatar sebuah salon kemolekan, dimana menunggangi seorang pria bagi menggambarkan perempuan adalah ide yang buruk,” tambahnya. “Jika itu merupakan ekspresi artistik hamba allah lain, maka saya harap mereka menggambar naskah sendiri secepatnya mungkin.” Kejadian serupa beberapa waktu sebelumnya, katib naskah Edward Albee menghentikan sebuah produksi Who’s Afraid of Virginia Woolf? yang menyodorkan jodoh homoseksual. “Seluruh salinan naskah saya” katanya internal sebuah pernyataan press, “memiliki beberapa klausul yang mengatakan bahwa ia harus dipentaskan tanpa adanya pengubahan, ataupun pengurangan, ataupun penambahan dan harus dipentaskan oleh aktor dengan jenis kelamin sebagai halnya ditulis n domestik tulisan tangan. Memang ada hak bernas penyutradaraan, belaka itu bukan hak untuk menyimpang berpokok naskah.” Beberapa aspek intern galur, ia menekankan, sama dengan histeria terungkapnya kehamilan dari salah satu tokoh, membentuk versi homoseksual akan jadi jenaka. Tentatif banyak sutradara berargumentasi tanya kebebasan artistik mereka, kalimat dalam kontrak lisensi sudah jelas–Dilarang mengubah sonder ijin. Edward Albee. Foto Ini semestinya dipahami bahwa jika sejumlah produksi di atas mutakadim dipentaskan dengan pengubahan tanpa ijin, maka penalti denda bisa dijatuhkan kepada sutradara atau produser pemegang keputusan pengubahan tertulis seluruh staf produksi, pemeran dan kru–bahkan pihak pengelola gedung–dengan maupun minus sepengetahuan mereka bahwa telah menjadi bagian dari upaya pengingkaran hukum. Mintalah, kamu akan mendapatkan Sementara sejumlah penulis, termasuk Simon dan Albee, secara masyarakat menolak pengubahan naskah, bilang nan lain makin akomodatif. Nyatanya, banyak penerbit/agen lisensi nan berbincang dengan kami mengatakan bahwa mereka menghimbau para sutradara untuk mengabari mereka di tadinya perencanaan produksi seandainya mereka berkehendak mengubah skrip, karena mereka mungkin sekadar bisa mengakomodir. “Selalu mintalah,” kata seseorang, “apa susahnya menunangi.” Langkah permulaan adalah menelepon alias menugasi piagam ke penerbit/perwakilan yang memegang lisensi naskah, dan sampaikan permintaan sedetil kelihatannya. Jangan saja batik “menyela sedikit” dari adegan 1, atau “menidakkan beberapa dialog dari adegan kedai.” Detilkan halaman, kalimat dan kata mana yang cak hendak diubah. Ini terbukti lega produksi Evergreen di Green Bay, Wisconsin. “Beberapa waktu lalu kami ingin membuat pengubahan pada Peter Pan and Wendy, kami meminta ijin melampaui Playscripts,” kata Gretchen Mattingly bersumber Evergreen. “Sutradara merasa pertunjukan ini, jika sesuai naskah, terlalu panjang lakukan pirsawan taruna kami. Kami lewat jelas dan detil soal mana nan mau kami potong–tokoh nan terkait, kalimat dan nomor halaman–dan bukan mengubah silsilah cerita. Playscripts habis mengontak perekam naskahnya–Doug Rand–dan mendapat persetujuan darinya sebelum jadwal pelajaran dimulai. Rand, merupakan salah suatu terbit banyak notulis masa kini nan melenggong pada daya kreasi tertentu buat mengubah sedikit dari karyanya–selama tuntutan ijin diajukan dimuka. Puas Oktober 2010, ia menghadiri Milwaukee’s Firts Stage Children’s Theatre nan semenjana mementaskan Peter Pan and Wendy dengan menambah beberapa pemeran Lost Boys. “Saya suka ada lebih banyak”, ia berkata pada para pemeran. “Dan nama mereka–Pockets and Bumbershoot–itu keren!” Dan ketika kelompok Curtain Call di Stamford, Connecticut sedang menyiapkan produksi Nunsense dua masa lalu, Direktur Eksekutif Lou Ursone melihat bahwa ide slide show “Nunsmoke” bagaikan unsur parodi berpunca “Gunsmoke” ialah kuno. “Ide saya yakni menggantinya dengan video “Project Nunway,” ujarnya.”Saya menulis surat ke penulisnya, Dan Goggin untuk meminta persetujuannya, dan ia dengan sangat bijak menyetujui–dan menyukai risikonya.” Bahkan jika penulis sudah meninggal seklalipun, akomodasi untuk pengubahan bisa dilakukan dalam hal tertentu. Sebagai model, Rick Kerby dari Manatee Players di Bradenton Florida, menghubungi pihak Music Theatre International untuk mengubah skenario musikal baseball klasik Damn Yankees. “Bradenton merupakan lokasi kandang kwartir lakukan Pittsburgh Pirates di kejuaraan masa dingin”, ia menjelaskan, “dan kami mujur ijin bagi mengganti tim underdog kerumahtanggaan skrip adalah Washington Senators menjadi Pirates. Ini akan memepas sponsorship yang bagus dari tim Pirates–mereka bahkan memberi kami seragam Pirates bikin dipakai dalam pementasan dan mengirim merchandise maskot Pirates kerjakan kegiatan promo pra pertunjukan kami.” Pertunjukan Damn Yankees nan mengganti Washington Senators menjadi Pittsburg Pirates. Foto Siapa yang melaporkan? Sira bisa jadi berpikir, “Tapi banyak orang kukuh melakukan pengubahan sonder ijin selama ini.” Itu moralistis, tapi jumlah yang tak juga tidak kalah mengejutkan. Keseleo satu alasannya adalah karena rangka-lembaga / agen lisensi dan royalti menggaji petugas untuk mengintai daftar gerombolan teater, artikel dan website yang drastis. Produksi Steel Magnolias di Memphis nan ditolak misalnya, adalah hasil temuan berasal publisitas kelompok itu sendiri. Tetapi, banyak kasus pelanggaran malar-malar dilaporkan makanya pemeran atau kru-nya sendiri–seperti mana kasus produksi karya Neil Simon, Rumors di Utah–atau seseorang berpangkal keramaian jodoh, atau seseorang yang terpanggil secara kepatutan buat melaporkan situasi demikian. “Saya pernah mendapat dua kali panggilan bersumber penerbit yang menanyakan tentang pertunjukan kami,” tulis John Davis dari Evergreen Players, sebuah kelompok teater boncel di Colorado. Keduanya berjarak nyata untuk kelompok kami. Panggilan permulaan merujuk pada permakluman bahwa sutradara kami mutakadim menambah pemeran tangan kanan dan beberapa bahasa tambahan. “Saya jelaskan bahwa bahkan kami n kepunyaan dua turunan memainkan episode kecil, mereka enggak asosiasi berada dalam suatu panggung bersamaan dan tidak ada adendum bahasa,” prolog Davis. “Hal itu memuaskan pihak penerbit. Belakangan ini kami tahu bahwa panggilan tersebut berawal berasal laporan terbit sendiri pemeran nan tidak puas karena kami lepaskan pecat.” Panggilan lainya ialah tentang pemeran adam nan memerankan tokoh perempuan dan sebaliknya. Pelanggaran yang tak disengaja ini menambah perasaan Davis setelah produksi dihentikan. Untungnya, karena koneksi kerja yang baik antara gerombolan teater dan lembaga lisensi, tidak cak semau denda nan dijatuhkan setelah kelompok teaternya meminta izin atas kesalahan dan berjanji tidak akan mengulang kesalahan nan sama. “Kerumahtanggaan kedua kasus,” catat Davis, “penerbit sangat sopan dan membantu.” Kesimpulan akhir Pengubahan naskah artinya, dalam kejadian konsentrat, batik ulang karya penulis dan kamu kali merespon dengan “Jangan memainkan karya yang diklaim laksana karya saya, kalau memang bukan.” Syariat tambahan, kemudian, garis bawahnya merupakan mendukung visi artistik penulis. Itu sebagaimana pandangan Lou Ursone dari Curtain Call Connecticut. “Kami mementaskan apa yang ditulis. Kami tidak mengganti bahasa yang “kotor”, kami enggak menghilangkan “nudity” adegan telanjang, kami mengagungkan penulis nan karyanya kami pilih untuk diproduksi. Aturan singkat berasal tiga penerbit / pemegang lisensi. Samuel French Naskah harus dipentaskan sebagaimana adanya dalam rencana yang diterbitkan dan harapan penulis dihormati dalam produksi. Tidak suka-suka pengubahan, penyisipan, ataupun penghilangan kalimat, lirik, musik, judul ataupun jenis kelamin tokoh yang dibuat untuk kelebihan produksi. Ini termasuk pengubahan atau penyesuaian parasan periode dan tempat n domestik tulisan tangan. Mengacu plong pengubahan jenis kelamin, lelaki akan memainkan motor adam dan putri memainkan dedengkot kuntum. Mohon Dicatat masing-masing kepala karangan ditimbang secara terpisah dan jikalau Engkau mau melakukan pengubahan lega skenario harus meminta ijin tersurat. Tidak semua penulis atau perwakilan dabir mengijinkan pengubahan. Dramatist Play Service Naskah-naskah harus dipentaskan sebagaimana yang dipublikasikan maka itu Dramatist Play Service Inc. tanpa pengubahan, penambahan, penggantian alias penghapusan lega referensi dan kop. Larangan ini meliputi, tanpa perkecualian, lain mengganti, memperbaharui atau mencocokkan waktu, latar atau ajang n domestik naskah dalam bentuk apapun. Jenis kelamin inisiator pula bukan diperkenankan diubah ataupun ditukar dengan cara apapun, misalnya kostum atau pengubahan bodi. Music Theatre International Ketika Kamu mendapatkan lisensi pergelaran, berdasarkan hukum pertunjukan tersebut harus dipentaskan sama dengan adanya. Engkau tidak berwajib melakukan pengubahan apapun kecuali mendapatkan ijin tertulis mulai sejak kami. Jika tidak, pengubahan akan merebeh eigendom cipta penulis dibawah Undang-undang Hak Cipta Pemerintah Federal. Tanpa ijin resmi MTI, tindakan Engkau akan mengangkut Anda kepada petisi –tidak cuma dari perekam, tapi juga semenjak kami–atas pelanggaran terhadap syarat-syarat intern permufakatan lisensi yang dengan jelas melarang Beliau mengamalkan pengubahan atau pemangkasan. Terkadang, versi baru berusul pertunjukan dibuat saat penulis atau orang lain yang disetujui penulis merekonstruksi karya tersebut. Namun bagaimanapun, hanya dabir yang memiliki hak melakukan revisi, dan mereka jarang menerimakan ijin kepada pihak lain untuk melakukannya. Jika Anda merasa cak hendak menyedang mengerjakan pementasan hasil rekonstruksi pembaruan, ada banyak naskah public domain Shakespeare, Gilbert and Sullivan yang sudah tidak lagi dilindungi Undang-undang Hak paten Amerika Sindikat. Padalah, demikian kata sandang nan saya ambil dan saya terjemahkan mulai sejak website American Association of Community Theatre. Mana tahu bisa menjadi wacana dan sasaran bagi diobrolkan dalam berbagai kesempatan bersama komunitas dan seniman kolega Sira. HukumMemodifikasi Naskah Drama untuk Pementasan. 3 Juli 2017 Ahmad Jalidu 1 Komentar naskah lakon, penulisan naskah, pertunjukan teater. oleh : Ahmad Jalidu*. Di dalam produksi teater berbasis teks, naskah drama atau kita sebut akrabnya dengan "naskah" saja, adalah pijakan utama dalam proses produksi. Banyak penonton teater juga Menginterpretasi Dan Mendeskripsikan Dalam Naskah Lakon Teater Modern Indonesia 1. Menginterpretasi Naskah Lakon Bila kita akan mempertunjukan naskah lakon tertentu, maka kita harus mengupayakan agar naskah lakon yang kita pertunjukan tidak berjarak dengan penonton. Artinya, penonton dapat menangkap arti dan makna, baik yang tersurat maupun yang tersirat yang kita visualisasikan di dalam pertunjukan. Mengupayakan agar Menginterpretasi Dan Mendeskripsikan Dalam Naskah Lakon Teater Modern yang akan kita pertunjukan tidak berjarak dengan penonton, berarti kita harus mengenal naskah lakon tersebut terlebih dahulu, kemudian menginterpretasikannya. Misalnya, naskah lakon Mentang-mentang dari New York karya Marcelino Acana Jr dramawan Filipina, terjemahan Tjetje Yusuf yang disadur oleh Noorca Marendra. Naskah lakon tersebut bercerita tentang Bi Atang seorang janda dan anak gadisnya, Ikah, yang berlagak seperti orang kaya, padahal hidupnya pas-pasan. Setting sosial dari cerita Filipina ini sangat mirip dengan setting sosial masyarakat di Indonesia. Oleh karena itu, Noorca Marendra menyadurnya, memindahkan setting peristiwanya ke kampung Jelambar, di wilayah Jakarta Barat. Bahkan, Menginterpretasi Dan Mendeskripsikan Dalam Naskah Lakon Teater Modern ini setting peristiwanya bisa dipindahkan ke setting peristiwa di Aceh, Batak, Minang, Sunda, Jawa, Madura, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Timor, Dayak, Banjar, Minahasa, Toraja, Bugis, Makassar, Ternate, Ambon, bahkan di Papua. 2. Mendeskripsikan Naskah Lakon Mentang-mentang dari New York merupakan naskah lakon realis yang menyajikan kewajaran dan bahkan kejadian/peristiwa yang dihadirkan merupakan kenyataan dari hidup sehari-hari. Seluruh kejadian/peristiwa dalam naskah lakon ini berlangsung di rumah Bi Atang yang digambarkan sebagai berikut. “Ruang tamu di rumah keluarga Bi Atang di kampung Jelambar. Pintu depannya di sebelah kanan dan jendela sebelah kiri. Pada bagian kiri pentas ini, ada seperangkat kursi rotan, di sebelah kanan ada radio yang merapat ke dinding belakang. Pada bagian tengah dinding itu ada sebuah pintu yang menghubungkan ruang tamu dengan bagian dalam rumah itu. Pagi hari ketika layar terbuka, terdengar pintu depan diketuk orang. Bi Atang muncul dari pintu tengah sambil melepaskan apronnya dan bersungut-sungut. Bi Atang ini orangnya agak gemuk, jiwanya kuno, tetapi tunduk terhadap kemauan anak perempuannya yang sok modern. Oleh karena itu, maklum kalau baju rumahnya gaya baru. Apronnya berlipat-lipat dan potongan rambutnya yang di “modern”-kan itu tampak lebih tidak patut lagi.” Menginterpretasi Dan Mendeskripsikan Dalam Naskah Lakon Teater Modern satu babak ini, bercerita tentang Bi Atang dan anak gadisnya, Ikah, yang sok modern. Gaya Ikah membuat kekasih dan teman-teman sepermainannya heran dan tidak lagi mengenalnya sebagai anak Jelambar. Di penghujung cerita, Ikah akhirnya menyadari kekeliruannya. Ceritanya pun berakhir dengan kebahagiaan. Karakter yang ada di dalam naskah lakon ini sebagai berikut. a. Ikah Anak gadis Bi Atang yang sok modern karena pernah menetap selama 10 bulan, 4 hari, 7 jam, dan 20 menit untuk belajar sebagai penata rambut dan kecantikan di Amerika. Ia mengganti namanya menjadi Francesca. Gaya bicaranya dibuat-buat seperti lafal orang Barat. Di rumah ia mengenakan gaun yang mengesankan dihiasi kulit binatang berbulu pada lehernya. Sebelah tangannya mengayun-ayunkan sehelai sapu tangan sutra yang selalu dilambai-lambaikan apabila berjalan atau bicara. Meskipun sudah pulang ke Jelambar, Ikah masih merasa berada di Amerika. b. BI Atang Agak gemuk. Janda yang menurut saja apa yang dikehendaki anak gadisnya, Ikah. Bi Atang didandani dengan dandanan yang norak dan aneh oleh Ikah. Rambutnya dipotong pendek, alis matanya dicukur, kuku dicat, berbedak, dan bergincu, seperti tante girang, sehingga menjadi bahan tertawaan tetangga. Akan tetapi, sebenarnya dia orang baik dan sangat mencintai anak gadisnya, Ikah. Oleh karena itu, dia menurut saja semua yang dikatakan Ikah. Dia tidak mau berselisih dengan Ikah. Bahkan, Ikah menyuruh setiap orang untuk memanggil ibunya dengan sebutan Nyonya Aldilla. c. Anen Kekasih/tunangan Ikah. Seorang insinyur yang cukup perlente, tetetapi dia sudah bertunangan dengan Fatimah. d. Fatimah Anak gadis dari keluarga yang cukup kaya di kampung Jelambar. Ia telah bertunangan dengan Anen. e. Otong Pemuda kampung Jelambar. Teman sepermainan Ikah, Anen, dan Fatimah yang diam-diam mencintai Fatimah. Baca Juga Penyusunan Dalam Naskah Lakon Teater Modern Indonesia Naskah Lakon Dari Sebuah Teater Modern Indonesia Improvisasi Dan Karakter Dalam Pemeranan Dari Sebuah Teater Modern Demikian Artikel Menginterpretasi Dan Mendeskripsikan Dalam Naskah Lakon Teater Modern Indonesia Yang Saya Buat Semoga Bermanfaat Ya Mbloo Artikel Terkait Langkah-Langkah Dan Penulisan Kritik Musik Menerapkan Dalam Nilai Estetis Dari Sebuah Tari Kreasi Jenis Dari Karya Seni Grafis Berdasarkan Teknik Nilai Estestik Dan Menulis Kritik Dalam Seni Teater Latihan Teknik Pemeranan Dalam Seni Teater Modern Naskahlakon disebut pula dengan skenario. Naskah